Selasa, 25 Maret 2014

Tragedi Hillsborough

Pada 15 April 1989, Liverpool FC bertemu Nottingham Forest di Semi Final FA Cup, di Hillsborough Stadium, kandang Sheffield Wednesday. Belasan ribu supporter Liverpool FC berbondong-bondong mendukung tim kesayangannya dalam laga tersebut. Seperti halnya dalam pertandingan-pertandingan penting lainnya di Inggris, suporter kedua tim yang bertanding harus dipisah tempatnya. Polisi menempatkan suporter Forest di Spion Kop End yang berkapasitas 21.000 penonton dan suporter Liverpool di Lepping Lane End yang berkapasitas 14.600. Pemilihan keputusan tersebut agak ganjil karena Liverpool memiliki jumlah suporter yang jauh lebih banyak dibandingkan Forest. Suporter yang datang baik menggunakan mobil, bis, kereta akan dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian dikawal oleh polisi menuju stadion. Suporter kedua tim banyak yang sudah berdatangan di Hillsborough sejak pagi hari. Sekitar pukul 2 siang, suporter makin banyak yang datang, terutama disekitar area Leppings Lane. Kick off mulai pukul 3. Kerumunan semakin banyak setelah supporter yang sempat terhambat di jalan datang bersamaan dan sudah berdekatan dengan waktu kick off. Keterlambatan mereka disebabkan adanya perbaikan jalan yang tidak diberitahukan sebelumnya oleh pihak kepolisian. Pukul 2.30 siang kerumunan orang jadi semakin banyakdan antrian masuk para suporter menjadi tidak teratur. Suporter yang baru datang, berebut untuk segera masuk ke stadion sebelum pertandingan dimulai. Hal itu semakin memperburuk keadaan yang memang sudah mulai tidak teratur sebelumnya. Menit demi menit suporter makin banyak. Kepolisian yang dipimpin Chief Superientendent Duckenfield semakin kewalahan. Sebagai catatan, Duckenfield ini masih sangat minin pengalamannya dalam menangani pertandingan sepakbola, apalagi pertandingan besar. Ribuan fans terjebak diluar untuk masuk sekitar 10 menit sebelum kick off disaat kedua tim masuk ke lapangan. Dan kekacauan pun terjadi.
Police officers David Duckenfield and Bernard Murray
David Duckenfield (kiri) dan asistennya Bernard Murray (kanan)

Petugas kepolisian sempat meminta agar kick off ditunda sedikit, supaya bisa menenangkan antrian supporter, tapi request itu ditolak. Kemudian seorang petugas meminta supaya pintu yang satu lagi, Gate C, agar sebaiknya dibuka. Permintaan itu pun ditolak oleh Marshall, dengan alasan dapat menyebabkan aksus kedalam stadion semakin tidak terkontrol. Setiap menitnya kerumunan fans diluar stadion terus bertambah, dan semakin tidak beraturan, dan semakin diluar kontrol. Saat fans yang diluar mendesak masuk, fans yang didalam puns semakin kesulitan untuk bernafas karena terdesak. Melihat keadaan yang semakin kacau, akhirnya Marshall menghubungi Duckenfield melalui radio untuk meminta izin agar Gate C dibuka. Saat Gate C dibuka, polisi mencoba mengarahkan fans untuk masuk melalui pintu itu. Kerumunan pun akhirnya mulai terpecah.

Liverpool fans outside Hillsborough stadium, 1989
Keadaan diluar stadion

Akan tetapi, justru dengan dibukanya Gate C, fans semakin overcrowded tepat di deoan Terraces dan menyebabkan kekacauan yang besar. Mereka berjalan dan saling dorong satu sama lain untuk segera mendapatkan tempat agar dapat menonton match tersebut. Dan kelalaian polisi semakin jelas terlihat. Mereka yang seharusnya berjaga di depan Tunnel untuk mengarahkan fans, disaat itu tidak ada. Dan sampai detik ini pihak kepolisian masih belum memberikan alasan yang jelas mengenai kelalaian tersebut. Overcrowded semakin nyata saat banyak fans yang naik keatas, dan juga melompati pagar pembatas lapangan untuk menyelamatkan diri. Pukul 3.06 wasit akhirnya memberhentikan pertandingan setelah mendapat masukan, dan karena melihat keadaan yang semakin kacau. Banyak suporter sudah kesulitan bernafas dan tergeletak tidak berdaya dipinggir lapangan. Melihat kondisi ini, kepolisian kembali lalai karena justru membuat barikade agar tidak lebih banyak lagi suporter ke lapangan. Barikade pihak kepolisian ini membuat para suporter Liverpool menjadi sulit untuk saling membantu sesamanya. Sekitar pukul 3.15 ambulance mulai berdatangan untuk memberikan pertolongan, namun terhalang oleh akses yang susah kedalam stadion. Tidak hanya itu, tenaga medis didalam stadion pun juga ternyata minim. Padahal pertandingan spenting itu sangan dibutuhkan. Bersamaan dengan itu, meeting antara kepolisian, wasit pertandingan serta wakil dari club dilakukan di boardroom. Setelah pertemuan selesai, Duckenfiled mengindikasikan bahwa pertandingan tidak dapat dilanjutkan dan harus dihentikan. Pertandingan berhenti, dan meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi Liverpool, tetapi juga bagi sepakbola Inggris. Jumlah korban jiwa sebanyak 96 orang, itulah mengapa setiap tanggal kejadian kita sering mengenang dengan kalimat "Justice for the 96".




Sumber : Tweet dati @BIGREDS_IOLSC dengan sedikit perubahan
              google images